Forever Ago Rilis 8 Oktober: Game Road Trip Emosional dari Annapurna, Worth It Dimainkan?

Forever Ago Rilis 8 Oktober: Game Road Trip Emosional dari Annapurna, Worth It Dimainkan?

Hari yang sama kamu baca ini, rilis banyak game baru yang isinya tembak-menembak, horor, dan kung fu. Lalu ada satu yang datang tanpa senjata, tanpa darah, tanpa timer yang mengejar. Forever Ago, game narrative adventure dari Annapurna Interactive, resmi rilis 8 Oktober 2026 di PC, PlayStation 5, Xbox Series X|S, dan Nintendo Switch 2. Kamu tidak akan menembak siapa pun di sini. Kamu akan mengendarai van tua, memotret kenangan, dan pelan-pelan diajak memikirkan sesuatu yang jarang dibahas game: kehilangan.

Ini proyek debut studio Third Shift, diterbitkan oleh Annapurna Interactive — penerbit yang memang punya reputasi mengkurasi game-game "aneh" yang berani lambat. Kalau kamu pernah main atau dengar nama-nama seperti What Remains of Edith Finch atau Outer Wilds (bukan dari Annapurna, tapi sejiwa), kamu tahu jenis pengalamannya seperti apa. Game yang tidak memintamu menang. Game yang meminta kamu hadir.

Pertanyaannya jelas: untuk harga yang tidak murah dan durasi yang pendek, apakah pengalaman emosional ini layak jadi game yang kamu mainkan akhir pekan ini? Berikut semua fakta yang bisa diverifikasi dari pengumuman resmi dan ulasan para reviewer, plus penilaian jujur di mana kekuatannya dan di mana cacatnya.

Siapa Alfred Foster dan Kenapa Kita Ikut Road Trip-nya

Tokoh utamanya bukan prajurit muda atau pahlawan super. Alfred Foster adalah seorang tukang kayu pensiunan dan fotografer amatir — kakek-kakek, suaranya serak, cara jalannya pelan. Ia memutuskan pergi road trip sendirian menyusuri hutan, gurun, dan pegunungan Amerika Utara untuk mengunjungi kembali tempat-tempat yang dulu punya arti khusus buat dia dan mendiang istrinya, Audre.

Sepanjang perjalanan, Alfred bertemu orang-orang asing yang membantunya melihat hidup dari sudut yang berbeda. Dan di tengah jalan, seekor anjing hilang ikut menempel dan menemaninya sampai akhir perjalanan. Dua hal ini yang menurut banyak reviewer jadi titik balik emosional game ini: Alfred yang awalnya kaku dan tertutup perlahan mencair, dan anjing itu — ya, kamu tahu apa artinya hewan dalam cerita tentang kehilangan. Siapkan tisu, itu bukan ancaman, itu peringatan jujur.

Kisahnya dibungkus narasi tentang cinta, kehilangan, duka, dan berdamai dengan masa lalu. The Outer Haven yang mengulasnya menulis bahwa siapa pun yang pernah memelihara hewan, suka fotografi, atau pernah mencintai dan kehilangan akan menemukan sesuatu yang beresonansi di sini. Itu klaim yang berani, tapi dari pola ulasannya, sepertinya tidak berlebihan.

Gameplay: Kamera Instan, Bukan Senjata

Senjata utamamu adalah kamera instan milik Alfred. Kamu memotret pemandangan dan momen-momen kecil sepanjang perjalanan untuk mengabadikan kenangan. Foto-foto itu bukan sekadar koleksi: beberapa di antaranya jadi kunci untuk memecahkan teka-teki lingkungan kecil yang tersebar di setiap lokasi. Contohnya memotret dari sudut tertentu supaya petunjuknya terlihat, atau mendokumentasikan sesuatu yang nanti membuka jalan.

Yang penting dipahami: tidak ada pertempuran sama sekali, tidak ada tekanan waktu. Kamu bisa berhenti di tepi danau, menyalakan api unggun, atau duduk saja di depan van sambil menonton matahari tenggelam. Ritme permainan sengaja dibuat tenang dan reflektif. Buat yang terbiasa dengan game yang menghukum kalau kamu diam lima menit, pengalaman ini akan terasa asing di awal — dan justru itu poinnya.

Ilustrasi tangan tua memegang foto instan jalan gurun dengan van tua dan api unggun

Visually, game ini punya gaya animasi unik yang stylized. Menariknya, trailer pengumuman awalnya terlihat seperti claymation, lalu digarap ulang jadi gaya yang sekarang. Menurut ulasan GamingTrend, lokasi-lokasi yang dikunjungi Alfred di masa lalu dan masa kini terlihat menua dengan cara yang disengaja — detail kecil yang bikin cerita "waktu berjalan" terasa nyata. Wajah karakter juga disinkronkan dengan dialog suara yang seluruhnya berbahasa Inggris. Kabar kurang menyenangkannya: belum ada konfirmasi Bahasa Indonesia, jadi kalau kamu butuh subtitle Indonesia untuk menikmati cerita, jangan berharap dulu.

Musik dan Pengisi Suara: Bagian yang Paling Dipuji

Kalau ada satu hal yang hampir semua reviewer sepakat, itu kualitas audio dan aktingnya. Soundtrack orisinalnya digarap Clark Aboud, komposer yang sebelumnya mengerjakan Slay the Spire dan Kind Words. Buat yang main Slay the Spire ratusan jam, kamu tahu Aboud bisa bikin musik yang menempel di kepala tanpa mengganggu fokus. Di sini, musiknya bertugas menemani momen-momen sepi, dan menurut ulasan-ulasannya, ia berhasil.

Pengisi suaranya juga bukan nama sembarangan. Piotr Michael mengisi suara Alfred dan memikul sebagian besar narasi lewat monolog batin sang kakek, sementara Cissy Jones mengisi suara Audre. Ulasan GamingTrend menyebut akting mereka "impeccable" dan jadi salah satu alasan utama kenapa cerita yang secara premis sederhana ini bisa terasa dalam. Ini penting: di game yang hampir sepenuhnya digerakkan dialog dan monolog, akting suara yang jelek akan membunuh semuanya. Di sini untungnya tidak.

Kata Para Reviewer: Skor Bagus, Tapi Ada Catatan

Oke, bagian yang paling kamu tunggu: kata mereka yang sudah tamat, game ini sebagus apa?

GamingTrend memberi 90/100 dengan label "Excellent". Reviewer-nya mengaku dari trailer saja sudah tertarik karena memang suka pengalaman naratif yang mengaduk emosi, dan setelah tamat ia menyebut Third Shift menciptakan sesuatu yang "truly special" — contoh ekspresi kreatif yang menurutnya dibutuhkan industri game lebih banyak. Kelebihannya menurut mereka: narasi yang digerakkan emosi, voice cast dan soundtrack yang kuat, mekanik kamera yang unik, dan durasi yang pendek tapi pas ("short and sweet"). Kekurangannya: beberapa masalah teknis kecil dan hanya ada satu file save tanpa replayability yang berarti.

ComingSoon memberi 7/10 ("Good"). Nadanya lebih dingin: mereka bilang game ini baru benar-benar "hidup" sekitar separuh jalan, tepat ketika anjing pendamping diperkenalkan dan Alfred mulai melunak. Tulisan dialognya dinilai kadang canggung dan ada pengalaman buggy di versi yang mereka ulas. Kesimpulannya jujur: game ini paling menawan saat merangkul tema "hidup layak dijalani", tapi bagian tentang duka terasa agak generik. Ada game tentang duka yang lebih baik di luar sana, kata mereka — tapi pecinta anjing tetap akan dapat sesuatu dari game ini.

Di Steam, datanya (via SteamDB) menunjukkan 87 persen ulasan positif, dan game ini sudah terverifikasi Steam Deck Verified — artinya teruji jalan baik di Steam Deck. Di Xbox Store, ratingnya 4,2 dari 5 dari 94 ulasan. Polanya konsisten: mayoritas pemain menyukainya, dengan catatan teknis yang tidak sampai merusak pengalaman.

Jadi rangkuman jujurnya: ini bukan game sempurna. Ada bug di sana-sini, tulisannya tidak selalu mulus, durasinya pendek, dan tidak ada alasan kuat untuk main ulang. Tapi buat yang datang dengan ekspektasi yang benar — pengalaman emosional sekali jalan, bukan game yang dimainkan 200 jam — skor-skor itu menunjukkan uangnya tidak terbuang.

Harga dan Cara Main Termurah

Harga resmi yang tercantum bervariasi per toko. Di Xbox Store terdaftar US$17,99 (sekitar Rp300 ribuan dengan kurs saat ini), sementara beberapa ulasan media menyebut angka US$19,99 dan ada yang menyebut mulai US$29,99 di platform lain. Karena harganya tidak seragam, cek halaman toko di region kamu sendiri sebelum beli — saya tidak akan mengarang harga Steam region Indonesia karena belum terverifikasi.

Yang perlu dicatat untuk pemain Xbox dan PC: game ini mendukung Xbox Play Anywhere dan tersedia juga lewat Xbox Cloud Gaming, jadi kalau kamu langganan layanan cloud-nya, itu bisa jadi cara termurah untuk mencobanya tanpa beli. Buat pemain Switch, versinya rilis di Switch 2, bukan Switch generasi pertama. Dan buat yang main di PC genggam, status Steam Deck Verified tadi berarti kamu aman main di Steam Deck.

Pertimbangan durasinya penting buat keputusan beli: ini game pendek yang dirancang untuk ditamatkan dalam satu atau dua sesi santai, bukan puluhan jam. Kalau kamu tipe yang mengukur value dari jam main per rupiah, game ini akan kalah dari game action panjang yang rilis bulan ini juga — misalnya Tenebris Somnia yang rilis 16 Oktober atau Sifu Mobile yang rilis 12 Oktober. Tapi kalau kamu mengukur value dari "pengalaman yang nempel di kepala seminggu kemudian", ini kandidat kuat.

Untuk Siapa Game Ini (dan Untuk Siapa Bukan)

Cocok buat kamu kalau: kamu suka game naratif yang lambat seperti Life is Strange atau Season: A Letter to the Future (dua judul yang memang disebut-sebut sebagai pembandingnya); kamu lagi butuh game yang menenangkan setelah seminggu penuh deadline; kamu pecinta anjing; atau kamu pernah kehilangan seseorang dan tidak keberatan game yang menyentuh topik itu dengan jujur.

Lewati dulu kalau: kamu cari game dengan tantangan, progres karakter, atau konten yang bisa dimainkan berbulan-bulan. Di sini tidak ada musuh, tidak ada level, tidak ada build. Buat yang lagi cari game HP yang bikin nagih dan ramai, pilihan yang lagi viral misalnya Bus Fever Party di Play Store mungkin lebih cocok — genre dan mood-nya beda 180 derajat.

Satu catatan penting soal mood: game ini membahas duka dan kehilangan orang tersayang secara terbuka. Kalau kamu sedang dalam masa berduka yang berat, pengalaman ini bisa terasa terlalu dekat. Tidak ada salahnya menunggu sampai kamu siap, gamenya tidak ke mana-mana.

Kesimpulan: Worth It?

Forever Ago adalah game debut yang berani: tanpa tempur, tanpa timer, hanya seorang kakek, kamera instan, dan seekor anjing, mengajakmu memikirkan hal-hal yang biasanya kamu hindari. Skor 90 dari GamingTrend, 7/10 dari ComingSoon, dan 87 persen positif di Steam menunjukkan satu pola yang sama — game ini berhasil menyentuh mayoritas pemainnya, meski dengan beberapa cacat teknis dan tulisan yang tidak selalu rapi.

Rekomendasi konkretnya: kalau kamu suka genre narrative adventure dan harganya pas di kantong, beli dan mainkan akhir pekan ini juga — pengalaman seperti ini paling enak dinikmati dalam sekali duduk yang tenang. Kalau kamu ragu soal harga, tunggu diskon pertama atau coba lewat Xbox Cloud Gaming kalau kamu punya aksesnya. Dan kalau kamu bukan penikmat game cerita, tidak apa-apa mengakuinya — game ini memang tidak dibuat untuk semua orang, dan itu bukan cacat, itu pilihan desain.

Yang pasti: di bulan Oktober yang penuh game perang dan horor, kehadiran satu game yang mengajakmu duduk di tepi danau dan memotret senja adalah variasi yang menyegarkan. Kadang yang kita butuhkan dari sebuah game bukan kemenangan. Kadang cuma butuh diingatkan bahwa hidup — dengan segala kehilangan di dalamnya — tetap layak dijalani.

FAQ

Kapan Forever Ago rilis?
8 Oktober 2026, serentak di PC, PlayStation 5, Xbox Series X|S, dan Nintendo Switch 2. Dikembangkan Third Shift dan diterbitkan Annapurna Interactive.

Berapa harga Forever Ago?
Bervariasi per toko; di Xbox Store terdaftar US$17,99. Cek halaman toko di region kamu untuk harga pastinya. Harga Steam region Indonesia belum terverifikasi saat artikel ini ditulis.

Genre apa Forever Ago?
Narrative adventure / indie. Tanpa pertempuran dan tanpa tekanan waktu; fokusnya cerita, eksplorasi, dan fotografi dengan kamera instan.

Berapa lama durasi permainannya?
Pendek — dirancang untuk ditamatkan dalam satu atau dua sesi santai ("short and sweet" menurut para reviewer).

Apakah ada Bahasa Indonesia?
Belum ada konfirmasi. Dialog suara seluruhnya berbahasa Inggris menurut ulasan yang terbit.

Berapa skor review Forever Ago?
GamingTrend 90/100 ("Excellent"), ComingSoon 7/10 ("Good"), Steam 87 persen ulasan positif, Xbox Store 4,2/5 dari 94 ulasan.

Apakah bisa dimainkan di Steam Deck?
Ya, berstatus Steam Deck Verified.

Sumber

  • Halaman produk resmi Forever Ago di Xbox Store: developer Third Shift, publisher Annapurna Interactive, tanggal rilis 8 Oktober 2026, harga US$17,99, rating 4,2/5 (94 ulasan), fitur Xbox Play Anywhere dan Xbox Cloud Gaming
  • Data SteamDB untuk Forever Ago: tanggal rilis Steam 8 Oktober 2026, 87 persen ulasan positif, status Steam Deck Verified
  • Ulasan GamingTrend (rilis 8 Oktober 2026): skor 90/100, pujian untuk narasi emosional, voice cast (Piotr Michael, Cissy Jones), soundtrack Clark Aboud, dan mekanik kamera; catatan soal masalah teknis dan satu file save
  • Ulasan ComingSoon (rilis 8 Oktober 2026): skor 7/10, catatan soal tulisan yang kadang canggung dan pengalaman buggy, serta peran anjing pendamping sebagai titik balik emosional
  • Ulasan The Outer Haven: ringkasan premis Alfred Foster (tukang kayu pensiunan dan fotografer amatir) serta tema cinta, kehilangan, dan berdamai dengan masa lalu
  • Ulasan OneMoreGame: detail proyek debut Third Shift, inspirasi perjalanan Pacific Coast, dan pembanding genre (Life is Strange, Season: A Letter to the Future)
  • Artikel Sekumpul Fakta: rangkuman tanggal rilis, platform, dan mekanik kamera instan

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Monster Hunter Outlanders Rilis 29 Oktober 2026: Preview Lengkap dan Worth It?

Viral 'Aplikasi Penghasil Uang dari Pemerintah', Hoaks atau Asli? Ini Faktanya

Pre-order iPhone 18 Pro & Pro Max Dibuka 7 Oktober di Indonesia: Spesifikasi dan Cara Ikut