Huawei Mate 90 Series Rilis di China: Kamera 200MP, HarmonyOS 7 Tanpa Google, Worth It?
![]()
Huawei belum selesai. Di saat banyak merek sibuk adu kamera 200MP dan baterai jumbo, raksasa China ini meluncurkan senjata terbarunya: Huawei Mate 90 Series. Peluncurannya digelar 1 Oktober 2026 di China lewat siaran langsung, dan seperti biasa, Mate series datang bukan untuk main-main. Ada empat model sekaligus: Mate 90, Mate 90 Pro, Mate 90 Pro Max, dan Mate 90 RS Ultimate Design.
Yang bikin seri ini menarik buat dibahas bukan cuma kameranya. Huawei sekarang jalan di jalur yang benar-benar berbeda dari semua merek lain: chip buatan sendiri, sistem operasi buatan sendiri, bahkan sampai toko aplikasi sendiri. Pertanyaannya: apakah paket "serba mandiri" ini layak ditunggu di Indonesia, atau justru jadi alasan untuk skip? Mari bedah satu per satu.
Lineup dan Harga: Naik, Tapi Huawei Punya Alasan
Empat model, empat kantong yang berbeda. Berikut harga resmi di China beserta konversi kasarnya ke rupiah (dengan kurs sekitar Rp2.670 per yuan, harga bisa bergeser):
- Mate 90 (12GB+256GB): CNY 5.999, sekitar Rp16 jutaan. Varian 12GB+512GB di CNY 6.999 (Rp18,7 jutaan) dan 12GB+1TB di CNY 8.499 (Rp22,7 jutaan).
- Mate 90 Pro: mulai CNY 6.999, sekitar Rp18,7 jutaan.
- Mate 90 Pro Max: 12GB+512GB di CNY 9.499 (Rp25,4 jutaan), 16GB+512GB di CNY 9.999 (Rp26,7 jutaan), Collector's Edition 16GB+512GB di CNY 10.999 (Rp29,4 jutaan), dan 16GB+1TB di CNY 12.999 (Rp34,7 jutaan).
- Mate 90 RS Ultimate Design: varian paling mewah, memakai Kirin 9050 Pro di semua varian dengan penyimpanan sampai 2TB dan rangka titanium seberat 248 gram.
Harganya naik dibanding generasi sebelumnya. Mate 90 termurah sekarang CNY 5.999, selisih CNY 1.300 (sekitar Rp3,5 juta) lebih mahal dari harga awal Mate 80. Huawei sendiri mengakui kenaikan ini. Richard Yu dari Huawei bilang ke media, kurang lebih, mereka terpaksa menaikkan harga karena biaya memori dan komponen ikut naik, meski kenaikannya dibuat lebih pelan dari seharusnya.
Buat konteks, data IDC mencatat pengiriman smartphone domestik China turun 7 persen sepanjang Januari sampai Agustus, tapi Huawei justru naik 13 persen di periode yang sama. Di kandang sendiri, merek ini masih kuat. Masalahnya selalu sama: di luar China, tanpa layanan Google, jalannya jauh lebih berat.
Kamera: XMAGE, Lensa 200MP, dan Modul yang Bikin Melongo
Kalau ngomongin Mate series, kamera selalu jadi bintang utama. Mate 90 standar membawa kamera utama 50MP dengan sensor RYYB 1/1,56 inci, bukaan variabel f/1.4 sampai f/4.0, dan OIS. Buat yang belum familiar, RYYB itu filter sensor khas Huawei yang menukar piksel hijau dengan kuning supaya menangkap cahaya lebih banyak. Hasilnya, foto malam biasanya lebih terang dibanding sensor biasa di kelas yang sama.
Kamera telefotonya juga 50MP (RYYB, f/2.2, OIS) dengan zoom optik 4x dan klaim "optical-quality" sampai 8x. Kamera ultrawide 40MP f/2.2 melengkapi trio belakang. Kombinasi yang solid untuk model "termurah" di seri flagship.
Nah, yang benar-benar gila ada di Mate 90 Pro Max. Varian ini membawa kamera telefoto periskop 200MP dengan sensor RYYB 1/1,28 inci, OIS, dan zoom optik 4x. Angka 200MP di lensa telefoto itu bukan sekadar pajangan. Sensor besar plus resolusi tinggi berarti hasil crop dan zoom digital tetap tajam, sesuatu yang biasanya jadi titik lemah kamera HP. Buat perbandingan, OPPO Find X10 Series juga mengusung kamera 200MP, jadi perang kamera flagship tahun ini makin seru.
Tapi Huawei tidak berhenti di situ. Mereka menyiapkan modul kamera eksternal bernama Ruiying Z10: sensor 1 inci 50MP dengan zoom optik 10x yang ditempel ke bodi HP. Harganya? CNY 5.999, sekitar Rp16 jutaan, hampir setara satu unit Mate 90 standar. Modul ini didukung penuh di Pro Max Collector's Edition. Ada juga paket lengkap kamera Pro Max seharga CNY 19.499 (sekitar Rp52,1 jutaan) dan teleconverter SmallRig seharga CNY 1.799. Jelas ini mainan buat fotografer serius, bukan buat semua orang. Tapi sebagai pernyataan teknologi, ini berani.

Performa: Kirin 9030, 9035, dan 9050 Pro
Di dapur pacu, Huawei membagi tiga chip untuk empat model. Mate 90 memakai Kirin 9030, Mate 90 Pro memakai Kirin 9035, sedangkan Pro Max dan RS memakai Kirin 9050 dan 9050 Pro. Perlu dicatat jujur: Kirin 9030 bukan chip yang benar-benar baru. Chip ini sebelumnya dipakai di Mate 80 Pro tahun lalu.
Meski begitu, Huawei mengklaim ada peningkatan signifikan dibanding Kirin 9020 di Mate 80. Berdasarkan pengujian internal mereka, performa CPU naik 13 persen, GPU naik 54 persen, dan NPU naik 13 persen, dengan peningkatan keseluruhan sekitar 27 persen. Angka internal tentu harus dibaca dengan hati-hati, tapi lompatan GPU 54 persen itu tidak kecil kalau benar.
Yang menarik, Kirin 9030 mendukung hardware ray tracing dengan kecepatan sampai 31 juta ray per detik. Huawei sudah mengujinya di game Wuthering Waves, meski fiturnya baru jalan di adegan-adegan tertentu. Buat gamer mobile, ini sinyal kalau Huawei serius menggarap grafis, bukan sekadar tempel angka benchmark. Arsitektur barunya disebut LogicFolding, yang diklaim mendongkrak kepadatan komponen dan efisiensi daya. Di varian tertinggi, Huawei menjanjikan peningkatan performa keseluruhan sampai 31 persen dibanding generasi sebelumnya.
HarmonyOS 7: Android-Free, Tanpa Google, dan Ini Masalah Besarnya
Ini bagian yang paling menentukan buat pasar Indonesia. Seluruh Mate 90 Series berjalan di HarmonyOS 7, sistem operasi yang sepenuhnya lepas dari Android. Huawei mengklaim ekosistemnya sekarang didukung lebih dari 450.000 aplikasi dan layanan. Angka yang terdengar besar, sampai kamu sadar satu hal: tidak ada layanan Google.
Tidak ada Play Store, tidak ada Gmail native, tidak ada Google Maps, tidak ada YouTube dengan pengalaman penuh. Buat pengguna di China, ini bukan masalah karena ekosistem lokal sudah mapan. Buat pengguna Indonesia yang hidupnya nempel ke GMS, ini tembok besar. Memang ada jalan memutar seperti sideload atau aplikasi pihak ketiga, tapi pengalaman yang dihasilkan tidak akan semulus HP Android biasa. Ini bukan soal spek, ini soal kenyamanan harian.
Di sisi lain, justru di sinilah Huawei paling mengesankan secara teknologi. Bayangkan: chip dirancang sendiri, sistem operasi ditulis sendiri, rantai pasok dibangun ulang hampir dari nol di tengah keterbatasan akses ke teknologi chip paling mutakhir. Yu dari Huawei bahkan mengakui kalau manufaktur chip canggih China masih mengandalkan mesin litografi DUV, sementara teknologi EUV masih dikejar. Di tengah keterbatasan itu, mereka tetap bisa merilis flagship yang di atas kertas bersaing dengan siapa pun. Itu pencapaian yang patut dihargai, terlepas dari masalah Google tadi.
Baterai, Layar, dan Ketahanan
Mate 90 membawa baterai 6.600mAh dengan pengisian kabel 66W dan nirkabel 50W. Naik ke Pro Max dan RS, kapasitasnya 6.800mAh dengan pengisian kabel 100W dan nirkabel 50W. Di era baterai 7.000 sampai 10.000mAh seperti yang dibawa beberapa pesaing China, angka 6.600 sampai 6.800mAh terdengar biasa saja. Tapi efisiensi chip dan software biasanya jadi penentu daya tahan nyata, jadi klaim "sehari penuh" masih masuk akal sampai ada pengujian independen.
Layarnya panel OLED datar 6,75 inci di model standar, dilindungi kaca Kunlun generasi ketiga yang diklaim tahan banting 50 persen lebih baik dibanding Mate 80. Ketahanan bodinya serius: IP68 (tahan rendam sampai 6 meter) plus IP69. Konektivitas lengkap: Wi-Fi 7, Bluetooth 6.0, NFC, eSIM, dan pesan satelit BeiDou (di China daratan; varian RS menambah dukungan satelit Tiantong).
Kapan Masuk Indonesia?
Jawaban jujurnya: belum ada kabar. Peluncuran awal memang selalu difokuskan ke China, dan Huawei belum mengumumkan jadwal ketersediaan global termasuk Indonesia. Melihat pola tahun-tahun sebelumnya, sebagian model Mate biasanya mendarat di pasar Asia Tenggara beberapa bulan setelah rilis China, tapi tidak ada jaminan polanya berulang tahun ini.
Kalau kamu benar-benar kepincut, jalur realistisnya cuma dua: tunggu pengumuman resmi Huawei Indonesia, atau beli unit China lewat importir dengan segala risikonya (garansi, jaringan, dan tetap masalah Google tadi). Saran saya: jangan buru-buru. Harga awal importir biasanya digoreng, dan kamu butuh waktu untuk memastikan unit China bisa dipakai nyaman di sini.
Verdict: Buat Siapa HP Ini?
Mate 90 Series itu flagship yang mengagumkan sekaligus bikin frustrasi, tergantung dari sudut mana kamu melihatnya. Dari sisi teknologi kamera, ini salah satu yang terbaik di 2026. Lensa telefoto periskop 200MP di Pro Max, bukaan variabel di model standar, sampai modul kamera eksternal Ruiying Z10, semuanya menunjukkan Huawei masih jadi rujukan fotografi mobile. Dari sisi engineering, membangun chip dan OS sendiri di tengah sanksi teknologi adalah pencapaian yang tidak bisa diremehkan.
Tapi buat kebanyakan pengguna Indonesia, satu fakta menutup semua keunggulan itu: tidak ada layanan Google. Kecuali kamu sudah nyaman hidup tanpa GMS, atau memang kolektor teknologi yang penasaran, sulit merekomendasikan HP Rp16 sampai Rp34 jutaan yang bikin urusan email, maps, dan aplikasi bank jadi ribet.
Buat pembanding di rentang harga flagship, pre-order iPhone 18 Pro sudah dibuka di Indonesia dengan ekosistem yang jelas, dan Huawei Watch GT 7 Series juga sudah resmi masuk Indonesia buat yang mau mencicipi ekosistem Huawei tanpa drama software HP. Kalau yang kamu cari murni kamera terbaik tanpa kompromi software, Mate 90 Pro Max layak masuk radar, tapi tunggu sampai ada kejelasan resmi. Jangan beli kucing dalam karung seharga puluhan juta.
Semua spesifikasi dan harga di artikel ini berdasarkan pengumuman resmi Huawei dan liputan media teknologi (Gizmochina, Memeburn, dan lainnya). Harga rupiah adalah konversi kasar dari harga China dan bisa berubah. Ketersediaan di Indonesia belum diumumkan saat artikel ditulis.
Komentar
Posting Komentar