Ace Combat 8: Wings of Theve Rilis: Game Perang Pesawat Rp899 Ribu, Worth It Dibeli?
![]()
Sudah bertahun-tahun genre game tempur pesawat sepi pesaing serius. Genre ini pernah jaya di era PS2 dan PS3, lalu perlahan tenggelam karena pasar lebih sibuk mengejar battle royale dan game souls-like. Sekarang Bandai Namco mencoba membalikkan keadaan lewat entri utama baru Ace Combat yang pertama dalam hampir satu dekade.
ACE COMBAT 8: WINGS OF THEVE rilis 1 Oktober 2026 untuk PC (Steam), PlayStation 5, dan Xbox Series X|S, dikembangkan oleh Project Aces dan diterbitkan Bandai Namco Entertainment. Game ini langsung mencuri perhatian: skor Metacritic-nya 88 dari 100 untuk versi PS5, OpenCritic memberi 87 dengan 99 persen kritikus merekomendasikannya, dan di minggu perilisannya game ini sempat bertengger sebagai game terlaris di Steam, mengalahkan Gears of War: E-Day dan Wardogs.
Pertanyaannya, seperti biasa: dengan harga resmi Rp899.000 di Steam Indonesia, apakah game ini pantas dibeli sekarang, atau lebih baik menunggu? Mari bedah dari fakta yang sudah terkonfirmasi.

Apa Itu Ace Combat 8: Wings of Theve
Buat yang belum pernah menyentuh seri ini: Ace Combat adalah seri game aksi pertempuran udara dari Jepang yang sudah berjalan sejak era PlayStation pertama. Kamu menerbangkan jet tempur nyata seperti F-16, F-14, sampai pesawat fiksi super seperti ADFX Morgan, dalam cerita perang fiksi yang dramatis. Gaya mainnya arcade, bukan simulator. Kamu tidak perlu paham aerodinamika buat menikmatinya, cukup refleks dan insting membidik.
Wings of Theve menempatkanmu sebagai pilot rookie yang terpaksa mengisi posisi seorang ace legendaris yang gugur. Premis klasik, tapi Project Aces dikenal piawai membungkus formula lama dengan presentasi yang bikin deg-degan. Review dari AltChar menyebut durasi kampanyenya sekitar 20 jam, cukup panjang untuk standar game aksi linear modern.
Dari sisi teknis, langit adalah bintang utamanya. Beberapa ulasan menyebut visual awan dan cuacanya sebagai yang terbaik yang pernah ada di video game. Cuaca dinamis bukan sekadar pemanis: awan tebal bisa mengaburkan radar dan visibilitas, badai memengaruhi handling pesawat. Ini yang bikin tiap misi terasa berbeda, bukan sekadar ganti peta.
Dogfight-nya Dipuji Hampir Semua Kritikus
Ini bagian yang paling solid. Kalau ada satu hal yang disepakati hampir semua media game, itu soal sensasi terbangnya. Metacritic mencatat skor 88 dengan status Generally Favorable, dan menurut rangkuman review GameDaily (7 Oktober 2026), poin yang dipuji konsisten: dogfight yang responsif, sistem cuaca yang hidup, wingman yang lebih cerdas, dan presentasi sinematik.
Yang menarik, banyak ulasan bilang game ini "the best Ace Combat has ever felt". Kontrolnya disebut presisi tapi tetap arcade: cukup dalam buat veteran yang mau teknik Immelmann turn dan manuver ekstrim, tapi tetap bisa dinikmati pemain baru yang cuma mau menekan tombol tembak dan melihat ledakan. Keseimbangan itu yang susah dicapai, dan Project Aces tampaknya berhasil.
Mode online juga dirombak jadi yang disebut sebagai salah satu yang terbesar dalam sejarah seri. GGWP (30 September 2026) melaporkan bahwa Ace Combat Online membawa mode co-op plus dukungan cross-platform, jadi pemain PC bisa terbang bareng pemain PS5 dan Xbox. Buat game yang komunitasnya kecil tapi loyal, cross-platform adalah keputusan yang tepat. Dulu salah satu masalah terbesar game Ace Combat adalah lobby online yang sepi di luar jam-jam sibuk, apalagi di region Asia. Dengan pemain dari tiga platform digabung dalam satu pool, peluang menemukan lawan atau kawan mabar di jam Indonesia jauh lebih besar. Ini detail kecil yang dampaknya besar buat umur panjang game.
Ceritanya: Bagian yang Bikin Kritikus Terbelah
Kalau dogfight-nya dipuji bulat, ceritanya tidak. GameDaily mencatat review-review terbelah soal narasi: sebagian media memuji karakter dan dramanya, sebagian lain mengkritik melodrama yang berlebihan dan alur yang membingungkan.
Buat konteks, ini sebenarnya ciri khas Ace Combat sejak dulu. Seri ini terkenal dengan cerita perang fiksi yang penuh monolog puitis dan plot politik yang kadang sulit diikuti. Penggemar lama justru menganggap itu bagian dari pesonanya. Jadi kalau kamu pendatang baru dan merasa ceritanya lebay, itu bukan bug. Memang begitu gayanya.
Saran praktisnya: jangan beli game ini demi ceritanya saja. Beli karena kamu mau merasakan jadi pilot tempur. Cerita adalah bonus, dan bonusnya kali ini memang tidak memuaskan semua orang.
Harga Resmi di Indonesia
Ini bagian penting buat dompet. Menurut GGWP yang meliput pre-order-nya, harga resmi di Indonesia adalah Rp899.000 untuk Standard Edition di Steam, dan Rp1.099.000 untuk Deluxe Edition. Di PS5 lebih mahal: Standard Rp1.199.000, Deluxe Rp1.399.000. Versi PC (Steam) jelas yang paling masuk akal harganya.
Deluxe Edition berisi base game, paket kosmetik yang bisa dikustomisasi, voucher Premium Ace Pass Plus, plus akses awal 3 hari. Kalau kamu bukan tipe yang peduli kosmetik pesawat, tidak ada alasan kuat mengambil Deluxe. Standard Edition sudah dapat game penuhnya.
Buat yang pre-order, bonusnya berupa pesawat F-14A dan port game PS2 klasik Ace Combat Zero: The Belkan War yang oleh banyak penggemar dianggap sebagai seri terbaik sepanjang masa. Bonus ini yang kemudian jadi sumber kontroversi, dan akan kita bahas di bawah.
Kontroversi Bonus Pre-order di PC
Ada satu catatan yang tidak bisa diabaikan, dan ini datang dari laporan Kotaku yang mengutip Eurogamer. Di konsol, Ace Combat Zero: The Belkan War yang jadi bonus pre-order adalah game standalone. Tapi di PC, pemain menemukan bahwa The Belkan War diperlakukan sebagai DLC yang menempel di Ace Combat 8.
Kenapa ini masalah? Karena artinya buat memainkan game port PS2 yang ukurannya cuma sekitar 4GB, kamu harus mengunduh dan menginstal Ace Combat 8 yang ukurannya sekitar 140 sampai 150GB. Buat pemain dengan kuota terbatas atau SSD yang sudah penuh, ini menyebalkan. Halaman Steam sempat menulis bahwa The Belkan War adalah "standalone application", lalu diperbarui setelah protes muncul.
Dampaknya nyata: review Steam sempat anjlok ke status Mixed saat rilis karena kemarahan ini, meski ratingnya kemudian membaik ke sekitar 84 persen positif. Ini bukan masalah kualitas gamenya, tapi soal komunikasi Bandai Namco yang buruk. Kalau kamu pre-order versi PC demi bonus The Belkan War, sekarang kamu sudah tahu konsekuensinya.
Hal yang Perlu Kamu Tahu Sebelum Beli
Ada beberapa detail teknis dari halaman Steam yang layak dicatat. Pertama, game ini tidak mendukung bahasa Indonesia, baik antarmuka, audio, maupun subtitle. Bahasa yang didukung antara lain Inggris, Prancis, Italia, Jerman, dan total 13 bahasa. Buat yang nyaman main game berbahasa Inggris, ini bukan masalah.
Kedua, game ini menggunakan Denuvo Anti-Tamper dan Easy Anti-Cheat tingkat kernel. Denuvo memang kontroversial di kalangan pemain PC karena kadang dikaitkan dengan masalah performa, meski dampaknya bervariasi per game. Ketiga, game ini tidak mendukung Steam Deck. Dan keempat, tidak ada DRM pihak ketiga yang aneh-aneh selain itu.
Satu hal lagi: pastikan koneksi internet dan ruang penyimpananmu lega. Ukuran install 140GB-an menempatkan game ini di kelas berat, dan game modern seperti ini biasanya rajin update. Ini bukan game yang bisa kamu instal iseng di sela-sela.
Worth It Dibeli? Penilaian Jujur
Oke, bagian terpenting. Jawaban jujurnya: untuk target audiens yang tepat, ini salah satu rilis terbaik tahun ini. Tapi Rp899.000 bukan uang kecil, jadi mari dipilah.
Worth it buat kamu kalau: kamu penggemar game aksi arcade yang rindu genre tempur pesawat, karena tidak ada pesaing serius di genre ini dan yang ini adalah yang terbaik yang pernah dibuat serinya; kamu main di PC atau konsol dan tidak keberatan dengan harga full-price, karena skor 88 Metacritic dan 99 persen rekomendasi kritikus bukan angka yang bisa diremehkan; atau kamu pemain multiplayer yang butuh game co-op baru, karena mode online dengan cross-platform memberi umur panjang di luar kampanye 20 jam.
Pikir dua kali kalau: kamu hanya penasaran tapi tidak punya ikatan emosional dengan genre ini, karena Rp899.000 untuk game yang ceritanya saja terbelah pendapatnya adalah taruhan yang mahal; PC-mu pas-pasan atau storage-mu sempit, karena 140GB plus Denuvo bukan kombinasi yang ramah; atau kamu tipe pembeli yang sabar, karena game Bandai Namco biasanya turun harga beberapa bulan setelah rilis, dan menunggu diskon 30 sampai 50 persen hampir selalu jadi keputusan yang lebih bijak.
Buat pendatang baru yang belum pernah main Ace Combat: Wings of Theve sebenarnya titik masuk yang oke. Premisnya berdiri sendiri dengan protagonis rookie, kontrolnya arcade-friendly, dan kamu tidak perlu mengejar lore belasan tahun buat menikmatinya. Tapi jujur saja, harga full-price untuk coba-coba genre itu berat. Tunggu diskon atau pinjam akun teman dulu.
Buat veteran yang sudah main sejak era PS2: ini game yang kamu tunggu. Dogfight terbaik dalam sejarah seri, cuaca dinamis yang mengubah cara main, dan bonus The Belkan War (meski dengan drama DLC-nya) adalah paket nostalgia yang sulit ditolak. Satu-satunya pertanyaan adalah apakah kamu sabar menunggu diskon atau tidak.
Satu hal lagi yang layak diapresiasi: Project Aces tidak ikut-ikutan tren live service yang memaksa. Tidak ada battle pass yang menuntutmu login tiap hari, tidak ada FOMO buatan. Kamu beli game, kamu dapat game penuh. Di era ketika hampir semua rilis besar mencoba menguras waktumu dengan sistem musiman, pendekatan jadul seperti ini justru terasa menyegarkan.
Sumber fakta: GGWP.id (30 September 2026) untuk tanggal rilis, platform, harga resmi Indonesia, edisi, dan mode online; halaman Steam resmi untuk harga global, bahasa yang didukung, Denuvo, dan Easy Anti-Cheat; GameDaily (7 Oktober 2026) untuk rangkuman skor Metacritic 88, OpenCritic 87, dan 99 persen rekomendasi kritikus; AltChar untuk durasi kampanye sekitar 20 jam; Kotaku/Eurogamer untuk kontroversi bonus pre-order Ace Combat Zero di PC; ComicBook untuk status terlaris Steam dan tidak adanya dukungan Steam Deck. Semua angka dan klaim di atas berasal dari sumber-sumber tersebut, bukan karangan penulis.
Komentar
Posting Komentar